Untuk itu, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengusulkan asumsi lifting gas sebesar 7.526 BBTUD atau 1.384 MBOEPD dalam RAPBN 2009.
Seperti dikutip dalam keterangan tertulis Ditjen Migas, Jumat (12/9/2008), untuk produksi batu bara sebesar 250 juta ton atau 2.875 MBOEPD, dan subsidi listrik sebesar Rp60,43 triliun.
Di samping itu, produksi batu bara yang akan capai 250 juta ton sebagian besar memang di ekspor. Namun, alokasi untuk kebutuhan dalam negeri juga mengalami peningkatan yang cukup tajam.
Hal ini terutama terkait dengan kebutuhan bahan bakar sejumlah PLTU program percepatan pembangunan 10 ribu MW yang mulai beroperasi. Sementara pada tahun-tahun selanjutnya produksi batu bara direncanakan akan terus meningkat, sedang ekspor akan relatif tak berubah.
Adapun sebagian tambahan produksi akan lebih dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, karena alokasi gas untuk kebutuhan dalam negeri semakin meningkat. Sebaliknya, ekspor malah mengalami penurunan.
Sebagai informasi, penyediaan energi Indonesia mengalami perubahan. Setelah bertahun-tahun mengandalkan minyak dan gas bumi, sejak 2000 proporsi penyediaan energi ditandai dengan peran nyata batu bara.
Mulai tahun 2007, peran batu bara sudah melampaui minyak bumi. Selanjutnya untuk di waktu-waktu mendatang diproyeksikan peran batu bara akan terus semakin membesar seiring dengan menurunnya produksi minyak dan gas bumi.
Asumsi lifting gas dan produksi batu bara tersebut menjadi materi Rapat Kerja Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dengan Komisi VII DPR RI , Senin (8/9) di Jakarta. Hadir ikut mendampingi Menteri ESDM antara lain sejumlah pejabat eselon I dan II di lingkungan Departemen ESDM. Rapat diikuti oleh sebagain besar anggota Komisi VII DPR RI. (ade)
0 komentar:
Posting Komentar